<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Blog Erie Sudewo</title>
	<atom:link href="http://eriesudewo.niriah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eriesudewo.niriah.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 00:56:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Petuah Mahathir</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/02/petuah-mahathir/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/02/petuah-mahathir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 00:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[
Tak banyak yang tahu. Pada 3 Mei 2007, Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh menganugerahi Doktor Honoriscausa pada Tun DR. Mahathir bin Mohamad. Bagi Mahathir, ini honoriscausa yang ke-27. Bagi lawan-lawannya, sosok Mahathir kontroversi. Bagi Malaysia, gelar ‘Bapa Pemodenan Malaysia’ tegaskan heroiknya Mahathir. Kontroversi dan pahlawan, memang beranjak dari pijakan yang mana. Meski malu-malu diakui, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tak banyak yang tahu. Pada 3 Mei 2007, Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh menganugerahi Doktor Honoriscausa pada Tun DR. Mahathir bin Mohamad. Bagi Mahathir, ini honoriscausa yang ke-27. Bagi lawan-lawannya, sosok Mahathir kontroversi. Bagi Malaysia, gelar ‘Bapa Pemodenan Malaysia’ tegaskan heroiknya Mahathir. Kontroversi dan pahlawan, memang beranjak dari pijakan yang mana. Meski malu-malu diakui, VOC pahlawan bagi Belanda. Bagi Indonesia jelas penjajah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mahathir dilahirkan pada 1925 sebagai bungsu dari 9 bersaudara. Pada usia 28 tahun, gelar dokter diraih dari University of Malaya. Usai ikatan dinas, bersama isteri dirikan Klinik Maha tahun 1957. Itulah klinik Melayu pertama di Negeri Kedah. Dari klinik ini keprihatinan Mahathir akan kondisi suku Melayu makin tak terbendung. Selama 1946-1950, opininya diterbitkkan <em>Sunday Times</em></span><span lang="IN"> dengan nama samaran C.H.E Det. Esai dan komentar tentang isu sosial ekonomi politik Melayu, juga dimuat di berbagai media seperti di <em>The Straits Times</em></span><span lang="IN">. Berbagai tulisan itulah yang kemudian terbit jadi buku ‘Dilema Melayu’ pada 1970.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <strong>Gaya Mahathir</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Pada 16 Juli 1981, Mahathir menggantikan PM Tun Hussein Onn. Era baru Malaysia disibak. Buku ‘Dilema Melayu’, jadi landasan pijak Mahathir. Dalam <em>opening speech </em></span><span lang="IN">pada <em>Asia Inc Forum on Leadership for Southeast Asia</em></span><span lang="IN"> di Patrajaya, 9-10 Juni 2003, Mahathir menegaskan satu prinsip, yang seolah seperti mengenang saat awal memimpin Malaysia:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> &#8230;<em>if you do things that are expected of you, then that’s not a decision at all. You’re not a leader, you are just follower. As I have said, we (leaders) do not just follow. We think about doing things our own way. Like the song, ‘I did it my way’.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <span lang="IN">Ucapannya itu kental dengan gaya ‘kemahathirannya’. Sebelum jadi PM, jatidiri negarawan Mahathir telah tampak. Klinik Maha sebagai klinik Melayu pertama, tanda ke-<em>leader-</em></span><span lang="IN">annya. Nama samaran di <em>Sunday Times</em></span><span lang="IN">, juga taktik jitu saat banyak pendapat diberangus. Maka saat jabat PM, Mahathir tebas berbagai kendala yang menjebak kejumudan Melayu. Kekuasaan sultan pun dibatasi. Mereka tak lagi kebal hukum, juga tak lagi dapat kemudahan berbisnis. Bumi putera didorong penuh, terutama dengan dibangunnya Permodalan Nasional Berhard (PNB). Di Indonesia muncul Permodalan Nasional Madani (PNM). Sementara yang China tetap leluasa berbisnis. Keseimbangan Melayu, China dan India pun dapat dijaga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Saat diterjang krisis 1997, Mahathir ambil kebijakan yang bertentangan dengan opini dunia. Ringgit di-<em>fix rate-</em></span><span lang="IN">kan dengan US$. World Bank dan IMF meradang. Mahathir ditentang hebat. Timbalan PM juga tak sependapat. Anwar Ibrahim terang-terangan usul agar ringgit diambangkan. Gaya Mahathir pun bersikap. Tak boleh ada dua ‘matahari kembar’, yang akhirnya Anwar disisih. Kebijakan Mahathir terbukti antar Malaysia jadi satu-satunya negara yang paling cepat lolos dari krisis. Pulihnya Malaysia menampar habis muka IMF. Horst Kohler, yang saat itu jadi petinggi IMF memuji kebijakan Mahathir. Entah apakah ucapan Horst sesuai dengan kata hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <span lang="IN">Kebijakan <em>fix rate</em></span><span lang="IN">, ilhami Mahathir terbitkan buku <em>A New Deal For Asia. </em></span><span lang="IN">Bukan tanpa alasan Mahathir memulai buku ini dengan satu kata <em>greed </em></span><span lang="IN">(licik, tamak).<span>  </span>Kegeraman Mahathir amat tampak. Negara yang dibangun bertahun-tahun, hanya dalam waktu semalam dimentahkan oleh para spekulan. Dalam mengomentari buku itu,<em> The Sunday Times </em></span><span lang="IN">menulis, implementasi gagasan Mahathir memperlihatkan kualitas kepemimpinannya. Kebijakan ini tidak hanya untuk Asia, tetapi juga baik diterapkan di dunia. Majalah <em>Far Eastern Economic Review</em></span><span lang="IN"> dan <em>Asiaweek</em></span><span lang="IN"> juga memuji <em>A New Deal for Asia </em></span><span lang="IN">sebagai solusi lolos dari lubang jarum krisis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <strong>Mahathir &amp; Lee Kuan Yew</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Setahun jelang lengser dari PM di 2003, Mahathir terbitkan buku <em>Reflection on Asia. </em></span><span lang="IN">Judul ini cermin ketawadhuan Mahathir. Dengan puji-pujian selangit, Mahathir tak terjebak pongah. Maka bisa saja bukunya dijuduli <em>Reflection on the World </em></span><span lang="IN">misalnya. Padahal Lee Kuan Yew<em> </em></span><span lang="IN">telah merilis buku <em>From Third World to First </em></span><span lang="IN">tahun 2000. Dalam buku Lee Kuan Yew itu, ada 33 testimoni pemimpin dunia. Di antaranya Kofi Annan, Margaret Thatcher, Goerge Bush, Jacques Chiraq, Helmut Kohl, Kim Dae Jung, Tony Blair, Paul Keating, Henry A. Kissinger hingga Rupert Murdoch. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <span lang="IN">Mahathir agaknya memang tak peduli dengan dunia <em>entertain.</em></span><span lang="IN"> Buku <em>Dilema Melayu</em></span><span lang="IN"> dan <em>Reflection on Asia</em></span><span lang="IN">, juga memuat testimoni pemuka dunia. Memang ada lima komentar di <em>Reflection on Asia, </em></span><span lang="IN">tapi itu untuk karya <em>A New Deal for Asia</em></span><span lang="IN">. Semua komentar dari media, yakni dari <em>The Sunday Times, The Star, Asiaweek, Far Eastern Review </em></span><span lang="IN">dan <em>Men’s Review.</em></span><span lang="IN"> Sekali lagi satu kata <em>greed</em></span><span lang="IN"> dalam memulai <em>A New Deal for Asia</em></span><span lang="IN">, menegaskan sosok dan posisi Mahathir di mata Barat. Maka tak ada testimoni dari mereka. Dan Mahathir pun tebukti tak pernah hirau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <span lang="IN">Dalam <em>From Third World to First,</em></span><span lang="IN"> tampak Harry, panggilan akrab Lee Kuan Yew, mengelola Singapura seperti perusahaan. Rakyat adalah karyawan. Maka tak ada demokrasi apalagi partai-partaian. Jika rakyat sejahtera, dengan sendirinya kehidupan politik berjalan baik. Sementara Mahathir harus mendorong majunya puak-puak Melayu di antara kesuksesan peranakan Tionghoa. Lee Kuan Yew suskes bawa rakyat Singapura berpenghasilan US$ 24.000/tahun. Sedang Mahathir telah ubah Malaysia dari sekadar ekspor karet dan timah, jadi negara industri modern untuk peralatan elektronik, besi baja dan mobil. Malaysia punya Proton, Singapura tidak. Malaysia pun punya Petronas, yang ekspansinya merambah negera jiran yang dikuasai Pertamina.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <strong>Orasi Honoriscausa</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Saat penganugerahan honoriscausa di Universitas Syiah Kuala Darussalam, orasi Mahathir membuat jantung seolah berhenti berdetak. Maju mundurnya sebuah negara, katanya, bukan ditentukan oleh SDA. Ada negeri yang kaya SDA namun miskin. Tapi ada yang miskin SDA malah maju. Beberapa negara di gurun-gurun yang dulu miskin, kini telah berubah kaya. Mereka biayai tenaga asing eksplorasi minyak. Gedung-gedung pencakar langit pun dibangun. Namun SDM diabaikan. Mereka kaya, tapi tak maju. Kekayaan meruah-ruah, namun mengapa mereka tetap berada di negara ketiga. Hanya bangun pencakar langit, tak otomatis maju. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> <span lang="IN">Mukul Asher, seorang profesor di <em>Lee Kuan Yew Institute</em></span><span lang="IN"> membandingkan pelabuhan Dubai dan Changi. Dubai dibangun jauh lebih megah ketimbang Changi. Tetapi Dubai hanya phisik saja. Sedang Changi yang kesulitan lahan, tetap lebih efisien dan efektif karena ditunjang SDM yang disiapkan. Mahathir lanjutkan, bangsa yang maju karena punya ilmu dan kecakapan. Dengan itu sumber daya diolah, kemiskinan diatasi dan negara didorong maju. Hasil penelitian bicara, maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh budaya bangsanya. Nilai hidup ini dipercayai, dipegang dan harus diamalkan. Nilai hidup itu juga akan menentukan reaksi manusia terhadap persoalan di sekelilingnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Itulah ‘modal sosial’, yang telah hilang dari perbendaharaan. Tanpa modal sosial, masyarakat akhirnya hanyalah kerumunan bukan barisan. Masyarakat akan stabil jika budayanya sesuai untuk kestabilan. Ada masyarakat yang punya ‘budaya ganas’. Maka sebaik apapun pemerintah tentu sulit ciptakan kestabilan. Juga kepercayaan bahwa demokrasi boleh menjamin kestabilan adalah tidak benar. Pucuk pimpinan harus punya sifat-sifat mulia. Sifat ini sekali lagi amat bergantung pada nilai hidup masyarakatnya. Dalam masyarakat yang tidak berbudaya mulia, pemimpin juga tidak akan memiliki nilai itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Salah satu nilai hidup terpenting adalah disiplin. Tertib di segala bidang dan tertib bersikap. Disiplin bermanfaat untuk cegah manusia jadi tak tamak dan egois. Bangsa yang disiplin, akan memangkas nafsu dan kepentingan pribadi untuk patuh hukum, peraturan dan undang-undang. Memang penyalahgunaan kuasa lebih memberi kekayaan, tetapi akhirnya akan celaka. Masyarakat yang dipenuhi anggota yang tidak disiplin, tidak akan pernah maju. Yang tak disiplin, akhirnya akan menuai keburukan. Sudah tentu pula keturunan mereka akan jadi mangsa di kemudian hari, ujar Mahathir membuat kening berkerut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Tanpa nilai yang mulia, segala ilmu dan kecakapan tidak dapat dipakai guna membangun negara. Semua disalahgunakan. Bukan menyumbang tapi menumbangkan. Itu memusnahkan negara. Satu lagi sifat yang membentuk budaya tinggi dan baik ialah perasaan malu. Jika tahu malu, tidak akan dilakukan hal buruk dan salah. Tidak akan diambil yang bukan haknya. Tak akan mencuri dan terima suap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Jika negara ingin maju, ganti budaya konservatif dengan budaya progresif. Negara konservatif tidak suka akan perubahan. Ingin kekal dengan cara lama dan kepiawaian yang lama. Sedang budaya progresif, ingin kejar yang lebih baik. Mereka akan berusaha sepanjang masa untuk perbaiki lagi apa yang sudah dicapai. Jadikanlah sifat progresif sebagai bagian hidup, guna menyumbang kepada pembangunan negara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Tak ada bangsa yang dijadikan Allah swt lebih unggul ketimbang yang lain. Yang ada hanyalah bangsa yang lebih rajin, lebih tekun dalam mengulangi berkali-kali sesuatu yang ingin dikuasai. Ilmu dan kecakapan melalui ulangan bertalu-talu, akan diwarisi oleh anak cucu. Anak bukan hanya mewarisi paras rupa ibu bapak, namun juga kebolehan mereka. Harus ada sekolah, bengkel latihan, institusi dan universitas. Kita antar pelatih dan pelajar ke negara asing. Tetapi tanpa budaya dan nilai hidup mulia, tanpa kesadaran akan pentingnya latihan berulang-ulang, apa saja yang disediakan tidak akan berjaya membangun negara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Allah telah berjanji, tidak akan menolong memperbaiki nasib manusia kecuali manusia itu yang harus memperbaikinya. Tetapi apakah kita telah usahakan. Benar-benar diusahakan. Kita tahu segala yang baik datangnya dari Allah swt. Yang buruk datangnya dari diri sendiri. Jika hari ini nasib kita buruk, tentulah kita yang bersalah. Tanpa kita tahu dimana duduk kesilapan, tak akan dapat nasib diperbaiki. Kesilapan terbesar adalah budaya dan nilai hidup yang dipupuk dan diamalkan masyarakat kita. Selagi kita tidak akui bahwa yang bersalah ialah kita, selagi kita tak akui kelemahan kita berpuncak pada kita sendiri, selagi kita tidak sanggup memperbaiki diri kita, selama itulah kita akan gagal membangun negara. Tidak ada yang mudah dalam perkara ini. Yang ada hanyalah rintangan yang memerlukan disiplin, pengorbanan, nilai hidup yang mulia serta usaha yang berulang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Gemuruh tepuk tangan akhiri orasi Mahathir. Yang tersisa tinggal renungan. ‘Oh Indonesia-ku’.</span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/02/petuah-mahathir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>6 Inspirasi Balita</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/02/6-inspirasi-balita/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/02/6-inspirasi-balita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 16:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[
Lucu dan nggemesin, itulah balita. Tawa dan celotehnya, hik..hik&#8230; buyarin puyeng, tegang dan kelelahan. Kalau tak senyum akan tawa balita, astagfirullah tegang banget ente. Ada balita di rumah? Alhamdulillah. Candai lantas amati. Ada 6 inspirasi dari balita. 
Kesatu tawa dan celoteh bayi yang nggemesin itu, pasti cairkan ketegangan orang tua. Inspirasinya bisakah yang dewasa secair [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Lucu dan <em>nggemesin, </em><span>itulah balita. Tawa dan celotehnya, </span><em>hik..hik&#8230; buyarin</em><span> puyeng, tegang dan kelelahan. Kalau tak senyum akan tawa balita, </span><em>astagfirullah </em><span>tegang </span><em>banget ente</em><span>. Ada balita di rumah? </span><em>Alhamdulillah</em><span>. Candai lantas amati. Ada 6 inspirasi dari balita. </span></p>
<p class="MsoNormal">Kesatu tawa dan celoteh bayi yang <em>nggemesin </em><span>itu, pasti cairkan ketegangan orang tua. Inspirasinya bisakah yang dewasa secair balita? </span><em>If yes, </em><span>tak ada </span><em>meeting </em><span>yang terpaksa datang,</span><em> </em><span>menegangkan, rutin dan </span><em>mbosanin</em><span>. Rapat yang menyenangkan pasti dirindui.</span></p>
<p class="MsoNormal">Contohnya Tukul. Pasti dinanti-nanti. Ya <em>nggak?</em><span> Sebab lucunya, </span><em>weleh.. weleh.. banget. </em><span>Rapat dengan Tukul, pasti menyenangkan. Lihat wajahnya saja sudah terpingkal-pingkal. Apalagi jika Tukul serius mimpin rapat. Hehe… jangan-jangan malah tak jadi rapat karena tertawa terus. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kedua bayi normal yang menangis pasti ingin <em>nyusu</em><span>. Mudah dipahami. Maka bagi yang dewasa jika butuh, jangan berbelit-belit, tak usah dengan bahasa bunga atau simbol. Katakan dengan jelas, singkat dan padat. Kebanyakan bahasa bunga, inti soal malah bisa lepas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ketiga begitu susu terpenuhi, bayi berhenti menangis. Bisakah kita berhenti saat yang dibutuhkan pun terpenuhi. Jangan dikasih hati <em>ngerogoh </em><span>rempolo. Sudah dipenuhi, masih menuntut yang lain. Ada saja alasannya. Apalagi bicara politik, </span><em>refooot. </em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Keempat perhatikan anak yang baru belajar berdiri. Tanpa dikomando, tiba-tiba dia coba berdiri. Jatuh meringis atau terkekeh-kekeh. Nalurinya untuk mandiri bangkit. Tidak perlu diajari, apalagi dengan teori ini dan itu. <em>Just do it</em><span>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kelima apakah tak <em>deg deg plas </em><span>jantung orang tua melihat anaknya belajar berjalan. Jatuh terjerembab dan menangis. Tapi bangun lagi, jalan dan jatuh lagi. Begitu terus hingga akhirnya bisa jalan dengan pantatnya yang </span><em>gembal gembul. </em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Begitu juga di usia 5 tahunan saat belajar naik sepeda. Pegang stang diajari, menuntun sepeda pun dipegangi. Akhirnya dilepas untuk jatuh bangun. Tak ada yang naik sepeda tak jatuh. Semua jatuh tapi akhirnya semua bisa bersepeda.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kegigihan. Itu inspirasi hikmahnya. Mereka tak tahu teori dan <em>training</em><span>. Pokoknya jalan, belajar dari jatuh untuk kemudian bisa pas seimbang bersepeda.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kita pun musti begitu dalam berusaha, bekerja dan memimpin. Gigih untuk terus berihtiar. Sering kali yang ditunggu tak datang. Sedang waktu terus berdetak. Akhirnya dengan atau tanpa bantuan dan teori apapun, <em>toh </em><span>usaha tetap harus jalan. Maka jadilah diri sendiri. Jika kita tiru orang lain, pasti ada yang tak pas dengan karakter sendiri. Ikuti saja iramanya, otomatis pasti terjadi keseimbangan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Keenam wajah bayi dan balita masih polos, lugu dan bening. Itu cerminan hati jernih. Pelajarannya, bisakah kita bersihkan hati dari kekotoran hidup. Hati ini cermin wajah. Begitu hati resah, wajah terlihat kuyu. Hati sakit, wajah pun gundah. Hati marah, wajah memerah menahan gejolak.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Wajah yang teduh, tanda hati yang tenang. Itulah raut wajah, tak bisa dipisah dari suasana hati. Banyak yang <em>cuaaantiiik</em><span> dan </span><em>guanteeeng, </em><span>tapi rautnya penuh soal. Inilah keindahan semu. Hati yang tenang tampak teduhnya. Apalagi yang biasa terbasuh wudhu, wajah pasti memancarkan cahaya.</span><em> </em></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/02/6-inspirasi-balita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kegigihan Nelson Mandela</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/kegigihan-nelson-mandela/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/kegigihan-nelson-mandela/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 23:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[
Kegagalan pasti terjadi pada setiap orang, dimanapun dan kapanpun. Membaca kisah berbagai orang sukses, pasti dimulai dari runtutan kegagalan. Bagi sebagian orang, kegagalan meminta mereka untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya. Bahkan juga dari orang lain.
Kegagalan bisa jadi sarana untuk berkembang, sarana untuk mengubah diri jadi lebih baik. Yang menarik dari orang sukses bukan bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Kegagalan pasti terjadi pada setiap orang, dimanapun dan kapanpun. Membaca kisah berbagai orang sukses, pasti dimulai dari runtutan kegagalan. Bagi sebagian orang, kegagalan meminta mereka untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya. Bahkan juga dari orang lain.</p>
<p class="MsoNormal">Kegagalan bisa jadi sarana untuk berkembang, sarana untuk mengubah diri jadi lebih baik. Yang menarik dari orang sukses bukan bagaimana mereka gagal, melainkan bagaimana mereka merespon kegagalan itu. Bagaimana mereka akhirnya bisa bangkit dari kegagalan. Jika pensiun dianggap kegagalan, kini bagaimana para pensiunan merespon pensiunnya untuk bangkit. <strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kegagalan kerap pula disamakan artinya dengan nasib buruk. Bicara nasib buruk, seringkali membuat banyak orang akhirnya tak mampu keluar dari situ. Yang lolos dari nasib buruk, biasanya karena ketabahan dan kegigihannya. Begitulah dengan Nelson Mandela.</p>
<p class="MsoNormal">Jika anda tak kenal Nelson Mandela, ‘apa kata dunia’. Nelson adalah symbol perjuangan. Perhatikan bagaimana sosoknya bisa memelihara optimisme dalam penjara selama 21 tahun. Pernjara Robben Island itulah ruang penyekapannya yang paling brutal dalam sejarah Afrika Selatan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Nama kelahiran Nelson Mandela adalah Rohihlahla, artinya pembuat masalah. Ayahnya yang kepala suku, seringkali didatangi kepala-kepala suku lainnya. Mereka datang untuk minta nasihat dan konsultasi. Diskusi yang dipimpin ayahnya, selalu berakhir dengan baik karena keputusan yang adil. Ini jadi pembelajaran bagi Nelson kecil yang jadi penting dalam hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Nelson Mandela selesaikan pendidikan hukum kemudian jadi pengacara. ANC <em>(African National Congress)</em><span> yang berjuang menuntut persamaan hak di tengah system apartheid menarik perhatian Nelson. Bakat kepemimpinannya langsung tempatkan dirinya di posisi penting ANC. Beberapa kali ditangkap dan akhirnya dipenjuara seumur hidup dengan tuduhan serius yakni sabotase.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tahanan ANC dimasukan dalam kelas D karena dianggap paling berbahaya. Karenanya juga diberi hak paling sedikit. Dan sebagai tokoh penting ANC, Nelson justru mendapat perlakuan paling buruk. Dikurung selama 23 jam per hari. Dengan lampu yang terus menyala hingga tak tahu waktu, apakah itu siang atau malam. Boleh dikunjungi hanya 1 X tiap 6 bulan. Nelson bahkan pernah hanya dikunjungi isterinya 1 X saja selama 2 tahun. Dengan sensor teramat ketat, Nelson cuma bisa terima dan kirim surat 1 X per 6 bulan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Selama 21 tahun Nelson mendekam di penjara Robben Island. Selama itu pula terjadi pergantian PM Afrika Selatan. Dan selama itu pula sering terjadi pertemuan rahasia antara Nelson Mandela dengan para PM. Semua tawaran ditolak Nelson. Cita-cita ANC cuma satu, yakni persamaan hak antara kulit hitam dan kulit putih.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam sistem apartheid yang tak berperikemanusiaan, bayangkan siksaan yang diterima di penjara yang dikatakan paling buruk dan brutal itu. Tapi cita-cita dan perjuangan ANC tak patah. Bukan hanya Nelson Mandela, semua aktivis ANC yang diperjaran tetap mempraktekkan semboyan perjuangan mereka. <strong>Mendidik semua orang adalah tugas ANC. Bahkan pada musuh-sekalipun. </strong><span>Maka para sipir penjara Robben Island pun dididik oleh ANC. Karena ANC yakin bahwa suatu mereka pasti akan berubah. </span></p>
<p class="MsoNormal">Dalam tekanan, intimidasi dan siksaan, itu bisa merusak phisik. Namun itu tak bisa padamkan semangat ANC, Nelson Mandela dan rakyat Afsel. Akhirnya 11 Februari 1990, PM De Klerk mengatur pembebasan Nelson Mandela. Sambil menggenggam lengan isterinya, di luar penjara Nelson berteriak: <em>“Amandla”. </em><span>(kekuatan). Sambil menari-nari ribuan pendukungnya yang menyambut pembebasan membalas teriakan dengan menggelegar: </span><em>“Ngawethul!”. </em><span>(Kekuatan adalah milik kita). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam tekanan yang hebat pro dan kontra, setahun berikutnya De Klerk umumkan penghapusan system apartheid. Rakyat hitam Afrika Selatan menyambut dengan gegap gempita. Sementara dunia pun menerima itu dengan penghargaan yang tinggi pada De Klerk dan perjuangan Nelson Mandela. Di muka bumi ini, sistem apartheid yang kejam dan lebih buruk dari perilaku kehidupan binatang telah dihapus.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>PM De Klerk dan Nelson Mandela akhirnya mendapat Nobel Perdamaian di tahun 1993. Setahun berikutnya Nelson pun menjadi PM Afrika Selatan. Dengan naiknya Nelson Mandela ini, Afrika Selatan sungguh-sungguh telah menemukan dunia baru dalam menapaki masa depan. Saat diwawancara pers yang ditayangkan ke seluruh dunia, Nelson Mandela mengatakan: <strong>Perjuangan adalah hidup saya. Jika tak ada kata maaf, maka tak ada masa depan bagi Afrika Selatan. </strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Nelson Mandela adalah sosok menggetarkan. Bukan hanya setahun atau dua tahun. Mendekam di penjara brutal selama 21 tahun adalah perjuangan yang amat dahsyat. Dia adalah symbol perjuangan, symbol kehidupan dalam memperjuangkan hak untuk diakui sederajat. Dia adalah manusia mulya. Harta dan kesenangan yang disodorkan tak menggodanya. Segala siksa dan derita, ditabahi sebagai bagian dari perjuangan. Satu hal yang amat memukau, Nelson Mandela sanggup untuk terus memupuk harapan di tengah kefrustasian. Dan 21 tahun harapan itu membuncahkan hasil. Jelas Nelson Mandela bukan manusia biasa. Itulah bagian dari perilaku, mental sikap dan cara pandang yang hanya dapat dilakukan oleh para Nabi.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/kegigihan-nelson-mandela/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>3 Kunci Sukses</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/3-kunci-sukses/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/3-kunci-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 12:50:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[
Saya lupa dimana saya membaca ‘tiga kunci sukses’ ini dan siapa penulisnya. Namun mengingat isinya penting, saya turunkan meski mungkin agak kurang etis menurunkan tulisan  tanpa menyebut sumbernya. Maka pembuka ini anggap saja sebagai permohonan maaf saya pada penulisnya yang kebetulan membaca tulisannya saya muat, setelah saya edit total tentunya. 
 Subhanallah, pasti ada maksud Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya lupa dimana saya membaca ‘tiga kunci sukses’ ini dan siapa penulisnya. Namun mengingat isinya penting, saya turunkan meski mungkin agak kurang etis menurunkan tulisan  tanpa menyebut sumbernya. Maka pembuka ini anggap saja sebagai permohonan maaf saya pada penulisnya yang kebetulan membaca tulisannya saya muat, setelah saya edit total tentunya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Subhanallah, pasti ada maksud Allah pertemukan saya dengan pengusaha sukses yang tak mau diungkap jati dirinya ini. (Begitulah tulisan itu dimulai). Usahanya macam-macam dari supplier, distribusi alat dan produk kesehatan, tambak dan ladang puluhan hektar, puluhan rumah kost, ruko dan gerai di mall. Penghasilannya bisa capai Rp 1 milyar per bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Pak, apa rahasianya bapak bisa kelola semua ini dengan baik? Bila dibilang sukses, sudah dong”, tanya saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Setidaknya ada tiga rahasia yang harus anda perhatikan”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>RAHASIA PERTAMA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jangan lupakan ibumu. Mengandung 9 bulan itu sangat berat. Lantas melahirkan antara hidup mati. Sekarang banyak orang yang salah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Para guru dan kyai dicium tangannya, sedang tidak pada ibunya. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi berjuta-juta rupiah, dibuatkan rumah dan direncakan macam-macam. Namun ibu dibiarkan sendiri di rumah. Diberi materi tetapi sekadarnya. Banyak orang menghajikan guru dan kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Itu semua terbalik. Pesan Nabi: “Ibumu, ibumu, ibumu”. Baru kemudian ayahmu, gurumu. Ridho Allah tergantung ridho ibumu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kumpulkan 1.000 ulama untuk berdoa. Ternyata doa ibumu jauh lebih mustajab.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>RAHASIA KEDUA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Banyaklah bersedekah. Allah kan berjanji melipatkan apa yang disedekahkan. Bukan hanya dibalas dengan materi, tetapi bisa dengan menghindarkan bahaya, memberi kesehatan, keluarga yang baik, ilmu dan kesempatan lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jangan sepelekan pengemis. Karena saat itu sebenarnya Allah sedang bukakan pintu rezeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan dengan sikap yang baik. Beri dengan uang kertas ketimbang logam. Pilih uang yang bagus, jangan lecek. Berikan dengan kedua tanganmu sambil sedikit menundukkan kepala.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Insya Allah pengemis itu akan terketuk hatinya. Sebab hampir tidak ada yang menghargai seperti itu. Maka doa pengemis itu akan memintakan apa saja untuk kebaikan kita dan tentu keluar dari hati yang amat tulus.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>RAHASIA KETIGA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Allah berjanji memberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Namun sedikit yang tahu bagaimana caranya. Caranya pingin tahu? Banyak-banyaklah menolong orang lain. Jika ada yang kesulitan, ada yang butuh, segera tolong. Bagi mereka yang kesulitan, anda merupakan rezeki yang tidak disangka-sangka. Nah itulah kuncinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Walaupun dia kaya?”, tanya saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ya meski dia kaya. Suatu saat pasti dia juga kesulitan. Mungkin dompetnya hilang, ban bocor atau apa saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Juga meski pada orang yang datang meminta-minta atas nama masjid atau panti yang uangnya dimakan sendiri. Beri saja. Sebab dia lakukan itu juga karena terpaksa. Karena mungkin anaknya sakit, mungkin lapar atau memang karena tidak punya pekerjaan. Pikiran dia sudah buntu, sudah frustasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Anda sedekah saja dan mohon ridho Allah. Soal dia berbohong, anda pun bisa memohon Allah untuk maafkan dan ampunkan dia. Tindakan anda ini sudah berkali-kali mengetuk pintu ridho Allah. Insya Allah Dia akan balas niat dan pemberian anda. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Subhanallah… ya Allah Engkau ciptakan mahluk semulya ini. Dia kaya ya Allah, namun tak membuat dia sombong dan lupa diri. Bahkan pada pengemis sekalipun. </span></p>
<p><span>Saya termangu-mangu untuk mengambil hikmah terpentingnya. </span><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/3-kunci-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Salah Picu Etos Kerja</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/jangan-salah-picu-etos-kerja/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/jangan-salah-picu-etos-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 23:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[
Ahmad Sabar menarik napas dalam-dalam. Saat menunggu lampu merah, mobilnya didatangi penjaja koran dan pengemis. Diambilnya selembar Rp 10.000-an dan sekeping logam Rp 100. Sambil menyodorkan uang Rp 10.000 diterimanya koran Republika.
“Kembaliannya, Pak”, kata penjaja koran sambil menyerahkan selembar Rp 5.000 dan dua lembar ribuan.
“Tak usah. Ambil saja,” ujar Ahmad Sabar sambil melirik seragam sekolahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Ahmad Sabar menarik napas dalam-dalam. Saat menunggu lampu merah, mobilnya didatangi penjaja koran dan pengemis. Diambilnya selembar Rp 10.000-an dan sekeping logam Rp 100. Sambil menyodorkan uang Rp 10.000 diterimanya koran Republika.</p>
<p class="MsoNormal">“Kembaliannya, Pak”, kata penjaja koran sambil menyerahkan selembar Rp 5.000 dan dua lembar ribuan.</p>
<p class="MsoNormal">“Tak usah. Ambil saja,” ujar Ahmad Sabar sambil melirik seragam sekolahnya yang sudah lusuh.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal">Seolah tak percaya, penjaja koran cilik ini ragu-ragu. Ahmad Sabar seolah paham apa yang berkecamuk dalam benak tukang koran. Setelah Ahmad Sabar anggukan kepala, mata tukang koran pun berbinar. Sambil menyungging senyum, beberapa kali ia ucapkan terimakasih.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pengemis yang tubuhnya lebih besar ketimbang tukang koran bangkit semangatnya melihat tukang koran mendapat uang kembalian Rp 7.000. Segera diulurkan lengannya sambil merajuk. Ahmad Sabar sodorkan satu keping logam Rp 100.</p>
<p class="MsoNormal">“Koq… “, ucap pengemis remaja ini tertegun. Raut wajahnya yang semula gembira sontak berubah kecewa.</p>
<p class="MsoNormal">“Mau gak jualan seperti tukang koran itu?” tanya Ahmad Sabar.</p>
<p class="MsoNormal">Bukan hanya pengemis yang terkejut mendengar kata-kata itu, bahkan dua pengamen di belakang yang tadinya sudah siap-siap bernyanyi terkesiap. Tanpa dikomando lagi, pengemis dan pengamen itupun segera pergi menjauh.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ahmad Sabar menutup kaca jendela. Pikirnya menerawang. Jika ia beri uang Rp 1000 kepada pengemis dan tak menggubris tukang koran, sikapnya bisa hancurkan etos kerja. Bisa-bisa si tukang koran banting korannya. “Untuk apa capai-capai jualan, kalau dengan mengemis bisa mendapat uang dengan mudah”, begitu mungkin pikiran si tukang koran.</p>
<p class="MsoNormal">Coba kalkulasi dengan hitungan sederhana. Jika untung Rp 500, untuk dapat Rp 50.000 sehari, tukang koran harus bisa jual 100 koran. Menjual 100 koran butuh<span>  </span>perjuangan. Lantas dipotong makan atau jajan, berapa kira-kira yang bisa dibawa untuk ibunya?</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sedang pengemis, hanya dengan modal napas, modal wajah memelas dan sekadar acungkan jemari, ia dapati mudah recehan seribuan. Maka dapat Rp 50.000 sehari, bagi pengemis itu pendapatan yang termasuk apes. Untuk Rp 50.000, pengemis cuma butuh 50 penderma. Mendapat 50-an orang hanya butuh beberapa jam. Malah ibu-ibu yang sering iba, terketuk hatinya untuk memberi Rp 10.000-an. Atau terkadang mengejutkan karena bisa memberi Rp 50.000 bahkan Rp 100.000.</p>
<p class="MsoNormal">Ahmad Sabar tersenyum. Pagi ini ia telah mendidik dirinya untuk tetap menjaga prinsip membangkitkan etos kerja. Ia teramat sadar, apa yang diberikan pada tukang koran jelas kecil sekali manfaatnya. Ia juga tak akan bisa merubah tradisi pengemis. Jadi cuma apa yang ia yakini, itu yang musti dipertahankan. Itu saja.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Orang seperti Ahmad Sabar barangkali tak paham tentang <em>social entrepreneurship</em><span>. Namun apa yang diyakini dan yang dilakukan, telah memenuhi prinsip </span><em>social entrepreneurship. </em><span>Istilah yang memang baru belakangan ini muncul, yang di Indonesia diterjemahkan sebagai </span><em>kewiraswastaan sosial. </em><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Prinsip kewiraswastaan jelas. Intinya tertuju pada kemandirian, kikis atau tak boleh tergantung, cermat menangkap dan ciptakan peluang, tak mudah putus asa, maka harus gigih serta musti belajar jadi <em>problem solver. </em><span>Tentu masih ada prinsip lain yang semuanya memompa etos kerja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Soal masyarakat tentu juga bukan hanya kemiskinan semata. Namanya juga masyarakat jadi meluas ke seluruh dimensi kehidupan. Ada politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan problem sosial lainnya. YLKI misanya, merupakan satu hasil dari semangat <em>social entrepreneurship </em><span>yang berkiprah untuk memecahkan persoalan </span><em>stupid market</em><span>. Bahwa pasar di Indonesia adalah pasar yang bodoh. Pasar yang posisi pembelinya selalu dikalahkan. Jadi bicara YLKI jelas bukan bicara tentang kemiskinan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Memberi uang pada kalangan miskin bukan tak ada manfaatnya. Ada. Tapi pemberian yang tidak disisipi pesan, membuat si miskin berada di zona nyaman untuk jadikan kemiskinan sebagai profesi. Profesi mengemis tentu tidak baik ditinjau dari sisi manapun. Kini bayangkan. Berapa jumlah anak-anak yang sudah terlanjur nyaman dengan mengemis? Inilah kelak generasi yang akan mewarnai haru birunya Indonesia. Generasi yang bermanfaat saat pilkada, pemilu dan pilpres. Maka kualitas politikus seperti apa yang tak memecahkan, malah hanya manfaatkan kemiskinan. Ah Indonesiaku…</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/jangan-salah-picu-etos-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Latihan Tiada Henti</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/latihan-tiada-henti/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/latihan-tiada-henti/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 10:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[
 “Abah, mengapa anak orang miskin kalau main gak kenal waktu. Pagi siang malam terus aja main. Koq beda dengan anak orang kaya. Mainnya cuma dari jam 4 sampai jam 6 sore”, tanya Alza Cah Ayu  pada bapaknya.

 Weleh… Riwok Ndadari terkejut. Ini mah bukan pertanyaan bocah kelas IV SD. Gimana caranya anak ingusan bisa tanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"> “Abah, mengapa anak orang miskin kalau main gak kenal waktu. Pagi siang malam terus aja main. Koq beda dengan anak orang kaya. Mainnya cuma dari jam 4 sampai jam 6 sore”, tanya Alza Cah Ayu  pada bapaknya.</p>
<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Weleh… Riwok Ndadari terkejut. Ini <em>mah </em><span>bukan pertanyaan bocah kelas IV SD. Gimana caranya anak ingusan bisa tanya yang jadi salah satu penyebab ‘lingkaran setan’ kemiskinan. Coba saja perhatikan. Si miskin yang sudah tak punya apa-apa, eh waktunya pun habis untuk bermain. Si anak kaya yang serba ada, malah tak biarkan waktunya sia-sia. Negara saja pusing urus si miskin, nah gimana kita-kita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Alza Cah Ayu pun mengejutkan abahnya lagi saat ke Jogjakarta. Karena baru naik pesawat pertama kali, matanya tak lepas memandangi pramugari. Maklum cita-citanya, salah satunya pingin jadi pramugari juga.<span>  Tak sampai 5 menit ia gamit lengan ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal">“Bu, aku gak mau ah jadi pramugari,” katanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Lho, kenapa?” ibunya menimpali.</p>
<p class="MsoNormal">“Habis kerjanya gak pakai otak”.</p>
<p class="MsoNormal">“Husss… jangan keras-keras”. Sambil berbisik ibunya kini yang tersentak dan kelabakan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Itulah anak-anak, kalau sudah komentar buat merah telinga. Mau diomelin, anda bakal susah sendiri, namanya juga anak-anak. Didiamin salah, dikomentari lebih salah lagi. Anak-anak ya itu dia. Jujur polos dan spontan. Kalau tak jujur dan tak apa adanya, bukan anak-anak dong. Meski mengejutkan, nalar bocah SD toh tetap terbatas. Belum pahamlah mereka di tiap pekerjaan ada pembagian peran. Ada pemikir namun ada yang cuma pakai tenaga. Ada yang basa basi namun ada pula yang musti sesungguh pramugari,<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span>Bagi Riwok, gadis kecilnya punya sesuatu. Analisanya lumayanlah. Cukup tajam, kritis dan cermat. Ini bekal. Tapi yang namanya bekal bagai pisau bermata dua. Bisa menyelamatkan namun juga bisa mencelakakan. Itu tergantung arahan dan latihan.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Arahan pertama, latihlah biar anak anda bisa menyampaikan pesan dengan cara yang baik. Teman-teman anak anda tak marah, berarti latihan cocok. Kedua jangan banyak dipuji. Karena pujian sering membuat lupa diri sekalipun orang dewasa. Ketiga nah ini yang pokok, segala puji cuma milik Allah. Maka sejak masih anak-anak bukan pujian yang dikenalkan tapi rasa syukur pada Allah.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kenapa rasa syukur dan bukan pujian? Kini kita simak baik-baik. Kepintaran bisa dikatakan anugerah, juga bisa dibilang pinjaman. Saat dibilang anugerah, konteksnya seolah itu pemberian cuma-cuma. Karenanya anda jadi terlena dan tak melakukan apa-apa atas anugerah itu. Nah ini berbahaya. Anda telah abaikan suatu karunia tiada tara.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sebaliknya jika kepintaran dikatakan pinjaman, ini yang bisa membuat anda lebih waspada. Sebagai pinjaman anda harus pelihara agar tak rusak. Dan karena pinjaman anda pun harus kembalikan pada saatnya. Soalnya mengapa dibilang pinjaman? Ya karena manusia dicipta Allah. Karena kepintaran itu pelengkap manusia, jelas itupun ciptaan Allah satu paket. Nah ini hebatnya Allah. Meminjami tapi tak minta apa-apa dari pinjaman itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bila kepintaran dikatakan pinjaman, bisakah anda sombong karenanya. Ibarat pinjam mobil, pantaskah sombong dengan mobil pinjaman. Sombong ke orang yang tak tahu bisa-bisa saja. Tapi sombong pada orang yang meminjamkan mobil, bukankah jadi naif. Sombong karena pintar, bukankah juga termasuk sombong pada Allah.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Cara terbaik mengembalikan pinjaman pada Allah adalah dengan bersyukur. Cara pertama bersyukur, ingat, ingat, Allah tak pernah tidur dan tak pernah lalai. Jadi gak usah sombonglah. Untuk apa sombong karena semua toh milik Allah. Juga mengapa harus sombong karena semua bakal balik pada-Nya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Cara bersyukur yang pertama, intinya awali dengan menanam kesadaran pada diri sendiri. Jangan langsung ke orang lain. Begitu diri anda mulai berubah, insya Allah itu akan berpengaruh ke orang lain. Apalagi pada anak-anak. Pasti mereka lihat apa yang dilakukan orang tua. Orang tua yang terlanjur keliru, maka bertaubat pada Allah dan jangan sungkan meminta maaf pada yang didzalimi. Lantas perbaiki diri, terus terus dan terus. Itu latihan atasi diri. Sebuah perjuangan besar yang tak pernah henti. Karena iblis pun menunggu di tikungan terakhir, yakni di saat ajal merenggang.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Jangan malu untuk minta maaf pada anak. Malu minta maaf, sesungguhnya orang tua sedang menyatakan siapa dirinya di hadapan anak-anak. Orang Medan bilang, macam mana orang tua tak mau melatih diri jadi dewasa. Usia sudah tua, tapi <em>ngambekan </em><span>seperi kanak-kanak. Atau jangan ada alasan anak-anak masih kecil, anak sendiri lagi. Justru karena mereka anak sendiri itulah asset. Malu minta maaf hati-hati. Itu salah didik, yang kelak bisa-bisa jadi bumerang.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal">Minta maaf pada anak-anak banyak manfaat. Pertama anak-anak senang sekali karena dihargai. Kedua ini pendidikan moral secara langsung. Mereka dikenalkan bersikap dewasa, dilatih bertanggung jawab. Minta maaf bukan kehinaan. Minta maaf adalah tanggung jawab, sebuah konsekuensi dari kekeliruan. Minta maaf justru sikap ksatria yang banyak mendapat simpati. Itu semua latihan <em>bo.</em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Cara kedua untuk bersyukur, kepintaran atau apapun yang dianugerahkan Allah, gunakan untuk kemaslahatan banyak-banyak. Pintar mengaji, bahasa Arab, Inggris atau matematika, fasilitasi agar bisa ajak teman-temannya belajar. Minta tolonglah pada anak untuk mengirim makanan pada tetangga. Jangan menyuruh pada yang kerja di rumah, karena kirim mengirim itu juga proses pendidikan kepedulian akan hak tetangga. Ini juga latihan sederahana dan mudah. Di satu sisi itu tanam kesadaran. Di sisi praktek, itu kepedulian langsung sejak dini. Praktis sederhana dan indah kan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Latihan untuk pintar, belajar sungguh-sungguh. Untuk jadi pengusaha, profesional, politikus atau negarawan, semua perlu latihan sungguh-sungguh. Dan memang untuk jadi apa saja dibutuhkan latihan. Tanya pada petenis legendaris Bjon Borg, Chris Evert atau Yustejo Tarik dari Indonesia. Berapa ribu kali mereka memukul bola hanya untuk kuasai satu pukulan.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal">Untuk menjadi petinju sekaliber Mike Tyson, berapa ratus ribu kali harus memukul sangsak. Untuk menjadi maestro bulu tangkis dunia, Rudy Hartono pun tak pernah bosan memukul ribuan kali hanya untuk berlatih <em>smash </em><span>dan </span><em>dropshot. </em><span>Legendaris bola Pele atau Maradona, pasti tak bisa menghitung berapa puluh atau ratus ribu kali telah berlatih menendang. Padahal di tiap pertandingan, gol yang diciptakan tak lebih dari tiga gol.</span></p>
<p class="MsoNormal">Antara proses latihan dan hasil pertandingan memang amat tak imbang. Namun mereka tak pernah bosan untuk latihan mengulang dan mengulang. Itupun tak otomatis pukulannya selalu sempurna. Bahkan setelah jadi juara, siapapun tetap butuh latihan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dipikir-pikir itu semua latihan untuk lahiriah. Baik melatih diri untuk jadi, profesional, jadi pengusaha, untuk meraih gelar maupun jadi olahragawan. Untuk merealisasi cita-cita itu butuh kerja keras. Lantas bagaimana dengan bathiniah. Pasti ada ‘olah jiwa’, latihan untuk mengendalikan diri. Mengapa melatih jiwa agar sehat terabaikan. Padahal ini masalah yang krusial.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Lihat. Untuk meraih gelar doktor itu sulit. Namun yang lebih sulit lagi menjadi doktor yang tak angkuh. Jadi ekonom yang bisa sejahterahkan rakyat, itu jauh lebih sulit ketimbang jadi teknokrat yang sekadar bicara ekonomi makro. Jadi pengusaha tanpa menipu, jauh lebih sukar ketimbang jadi pengusaha yang patpatgulipat. Dan akhirnya jadi negarawan, masya Allah sukarnya bukan main ketimbang sekadar politikus yang menangkan pilkada dan pemilu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span>Ck..ck..ck…jadi seseorang memang mudah. Yang sulit adalah menjadi seseorang yang berupaya mengenal dirinya, asal usulnya dan kemana tujuan hidup. Ini perlu latihan yang tidak akan pernah selesai.</p>
<p class="MsoNormal">Anda gigih berlatih, karakterlah yang terbentuk. Positif. Dalam dunia manajemen, anda dikatakan profesional. Bagi perusahaan, karakter ini amat penting. Sebab perusahaan berkarakterlah yang bisa memiliki <em>corporate culture. </em><span>Anda angin-anginan berlatih, tabiat hasilnya. Negatif. Di perusahaan, inilah ‘budaya liar’ yang banyak terjadi. Apapun kebijakan perusahaan selalu ditanggapi negatif.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di wilayah negara lebih mengkhawatirkan lagi. Generasi muda yang belum punya pegalaman apa-apa tiba-tiba telah jadi anggota legislatif atau jadi eksekutif. Soal ilmu mungkin lebih dari cukup. Namun pengalaman itu bab lain yang tetap butuh waktu dan latihan. Meraih gelar memang lebih mudah ketimbang memimpin. Menjadi pengamat memang lebih leluasa ketimbang jadi praktisi.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Anda tak percaya?<span>  </span>Coba perhatikan. Pengamat tinju leluasa bicara untuk berkelit dari pukulan lawan sambil lakukan jab. Lalu tanpa latihan, beranikah pengamat tinju masuk ring. Tak usah lawan Mike Tyson, lawan saja petinju sayur: Berani?</p>
<p class="MsoNormal">Kunci untuk ‘menjadi’ cuma satu. Tak boleh jemu untuk berlatih. Terus terus dan teruslah berlatih. Untuk jadi negarawan, berlatihlah untuk pentingkan hajat orang banyak. Peka pada kepentingan yang lebih besar, artinya itulah latihan rontokkan ego. Dengan ego takluk, anda pasti paham mana kepentingan partai dan mana kepentingan bangsa.</p>
<p class="MsoNormal">Cuma itu saja. Latihan. Tanpa latihan, percayalah, anda pasti gagal. </p>
<p><!--EndFragment--> <!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/latihan-tiada-henti/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Politik Cari Makan</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/politik-cari-makan/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/politik-cari-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 01:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[
Sekarang politik bukan gelanggang untuk tegakkan keyakinan
Kini telah jadi gelanggang untuk cari makan
 
Siapa yang menang, seolah tinggal memanen apa saja
Tanpa niaga sontak mendadak jadi orang kaya
 
Berebut-rebut di gelanggang melalui partai
Dengan partai lain gaduh
Dengan partai sendiri juga saling tikam, saling khianat dan menjatuhkan
 
Politik dalam negeri jadi keruh dan kotor
Melahirkan perompak-perompak terhormat
Memunculkan pencuri-pencuri bergengsi
 
Yang senang sedikit
Yang susah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Sekarang politik bukan gelanggang untuk tegakkan keyakinan</p>
<p class="MsoNormal">Kini telah jadi gelanggang untuk cari makan</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Siapa yang menang, seolah tinggal memanen apa saja</p>
<p class="MsoNormal">Tanpa niaga sontak mendadak jadi orang kaya</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Berebut-rebut di gelanggang melalui partai</p>
<p class="MsoNormal">Dengan partai lain gaduh</p>
<p class="MsoNormal">Dengan partai sendiri juga saling tikam, saling khianat dan menjatuhkan</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Politik dalam negeri jadi keruh dan kotor</p>
<p class="MsoNormal">Melahirkan perompak-perompak terhormat</p>
<p class="MsoNormal">Memunculkan pencuri-pencuri bergengsi</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Yang senang sedikit</p>
<p class="MsoNormal">Yang susah semakin banyak</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Dari pemilu ke pemilu kondisi tak berubah</p>
<p class="MsoNormal">Apa yang berlaku kemarin, kini terulang lagi</p>
<p class="MsoNormal">Esok pun bakal makin keruh</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Begitulah rakyat di negara demokrasi</p>
<p class="MsoNormal">Selalu jadi alat</p>
<p class="MsoNormal">Yang hanya bisa berharap dan berharap</p>
<p class="MsoNormal">Sementara nasib tetap saja tak terbela </p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/politik-cari-makan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Arti Politikus</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/apa-arti-politikus/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/apa-arti-politikus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 01:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[
Di hadapannya, pengikut mengangguk-angguk
Di belakang, mereka mengutuk
 
Apalah arti politikus
Di hadapannya, pengikut tampak hormat
 Di belakang, mereka melaknat
 
Apalah arti politikus
Di depannya, pengikut tampak setia
Di belakang, mereka mencerca
 
Apalah arti politikus
Yang punya pengikut bukan dari hati
Tapi dari kepentingan
 
Apalah arti politikus
Diikuti bukan atas dasar prinsip
Dituruti bukan karena cita-cita
Tetapi karena ada sesuatu 

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal" align="center">Di hadapannya, pengikut mengangguk-angguk</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Di belakang, mereka mengutuk</p>
<p class="MsoNormal" align="center"> </p>
<p class="MsoNormal" align="center">Apalah arti politikus</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Di hadapannya, pengikut tampak hormat</p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span>Di belakang, mereka melaknat</p>
<p class="MsoNormal" align="center"> </p>
<p class="MsoNormal" align="center">Apalah arti politikus</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Di depannya, pengikut tampak setia</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Di belakang, mereka mencerca</p>
<p class="MsoNormal" align="center"> </p>
<p class="MsoNormal" align="center">Apalah arti politikus</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Yang punya pengikut bukan dari hati</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Tapi dari kepentingan</p>
<p class="MsoNormal" align="center"> </p>
<p class="MsoNormal" align="center">Apalah arti politikus</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Diikuti bukan atas dasar prinsip</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Dituruti bukan karena cita-cita</p>
<p class="MsoNormal" align="center">Tetapi karena ada sesuatu </p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/apa-arti-politikus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Ibadah Kita?</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/benarkah-ibadah-kita/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/benarkah-ibadah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 23:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[
Saya setuju dengan pendapat mencari nafkah itu ibadah. Tapi saya tak sepakat bila ibadah itu selalu menyangkut hal-hal besar. Sekadar melepas lelah, itu hal kecil yang juga bisa jadi ibadah. Bandingkan antara istirahat dengan santai. Tiap orang butuh istirahat. Sedang santai jelas malas. Maka dengan alasan apapun santai tetap bukanlah ibadah. Mengapa? Karena sifat malas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Saya setuju dengan pendapat mencari nafkah itu ibadah. Tapi saya tak sepakat bila ibadah itu selalu menyangkut hal-hal besar. Sekadar melepas lelah, itu hal kecil yang juga bisa jadi ibadah. Bandingkan antara istirahat dengan santai. Tiap orang butuh istirahat. Sedang santai jelas malas. Maka dengan alasan apapun santai tetap bukanlah ibadah. Mengapa? Karena sifat malas tak masuk kategori ibadah.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Lantas apa yang dimaksud dengan ibadah? Andai otak diminta menjawab, maka jawabnya tergantung sudut pandang. Jika akal yang harus jelaskan, nah inilah kelebihan dan kemulyaan manusia. Ada perbedaan mendasar akal dibanding otak. Di antara binatang, maka monyet, anjing dan ikan lumba-lumba, merekalah yang punya otak lebih cerdas. Otak memang berhubungan dengan kecerdasan. Sedang akal berkait<span>  </span>dengan penilaian, membedakan baik dan buruk, bisa kalkulasi dampak bisa kenali Tuhan, serta hanya akal yang sanggup memahami ada kehidupan seusai mati.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dengan akal, manusia bisa nikmati apapun. Yang tak punya akal hanya bisa ‘merasakan’. Pasti berbeda nikmatnya sate kambing dan ayam bakar. Sedang macan hanya bisa rasakan daging yang serba mentah. Sama seperti ayam yang tak bisa rasakan jagung karena langsung disetor ke tembolok. Kita kagum akan kecantikan ratu sejagad. Hal yang tak bisa dialami domba meski sama-sama punya mata. Kucing pun tunggang langgang melihat serombongan ratu ayu berjalan bersenda gurau.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tanpa akal, kambing dan kucing tak mafhum pesan Rasulullah saw: ‘Pandangan pertama laba. Pandangan kedua dst adalah bala’. Saat tertegun lantas teruskan pandangan, itulah masiat. Terkesiap sejenak lantas tersadar untuk palingkan wajah, itulah ibadah. Kesabaran pun begitu. Sabarnya seseorang, tergantung pada reaksinya di awal musibah. Waktu dihina reaksinya ihlas, detik berikutnya diri bisa lebih dikontrol. Begitulah kesabaran akan lahirkan kesabaran berikutnya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Hanya akal yang bisa pahamkan antara masiat dan ibadah. Akal sehat adalah akal yang telah tercerahi. Oleh apa? Agama. <em>Haree genee </em><span>masih omongin agama? Ya apa boleh buat. Beragama atau sekuler, sama-sama pasti matinya. Karl Mark penulis </span><em>Das Kapital, </em><span>akhirnya toh mati juga. Padahal dia bilang, ‘agama adalah candu’. Andai tokoh-tokoh atheis tak mati, mungkin agama tak laku. Mereka tak bisa cegah ketuaan dan kematian, tapi mereka tetap tak percaya agama. </span></p>
<p class="MsoNormal">Itulah akal sakit. Tak kenal atau menolak agama. Dengan yakinnya mereka mencari sendiri makna kehidupan. Otak diandalkan yang dengan kecerdasannya akal dikendalikan. Tanpa sentuhan agama, otak tak mampu temukan bahwa di dalam diri manusia ada nafsu. Lalu dengan kecerdasan itu manusia kreasi beragam istilah. Atas nama kreasi, nafsu tak terdeteksi. Tanpa akal, kecerdasan manusia hanya dipakai untuk penuhi hasrat ego ketamakannya.</p>
<p class="MsoNormal">Kartel dan monopoli dilarang karena bukan hanya tak adil, tapi juga hancurkan pihak lain. Bencana siapa mencaplok siapa, diredam dengan istilah akuisisi dan merger. <em>Holding company </em><span>muncul jadi sentuhan profesional yang menyejukkan. Model </span><em>franchaisee </em><span>yang bagi hasilnya tak imbang, selalu untungkan penemu yang jadi pemilik. Bunga bank yang begitu memikat dipasarkan, ujung-ujungnya pasti sulitkan peminjam. Utang dimanja dengan bonus, tunai dianggap tertinggal zaman. Uang pun diperdagangkan yang jumlahnya amat fantastik, hingga dalam sekejap negara pun terbukti terjungkal. </span></p>
<p class="MsoNormal">Semua istilah yang canggih itu, cuma satu landasannya: tamak. Itulah hasil kerja otak. Cerdas, memikat, profesional, merambah seluruh dunia serta mengajak siapapun terlibat. Istilah <em>business is war </em><span>yang esensinya menghancurkan bisa diterima wajar oleh yang kalah. Akhirnya kata globalisasi terkemas dalam keindahan kiat manajemen. Padahal inti globalisasi satu: kikis peran negara agar bisnis bisa leluasa berekspansi.</span></p>
<p class="MsoNormal">Egois memang menyebalkan. Sikap serakah rugikan orang lain. Tapi jika ego dan serakah dikelola profesional, hasilnya industri hulu hilir. Negara pun tekuk lutut. Ego, tamak dan serakah, itulah nafsu manusia. Yang oleh otak dikemas, hingga ‘serigala betul-betul berbulu domba’. Maka dengan amat geram Mahathir Mohammad mengawali bukunya <em>The New Deal for Asia </em><span>dengan kata </span><em>‘greed’.</em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Hanya akal yang bisa deteksi ‘ada udang di balik batu’. Akal paham ‘kura-kura dalam perahu’. Akal yang tercerahkan menerima pesan agama bahwa sesuatu dikatakan ibadah dengan memenuhi<span>  </span>lima (5) syarat, yakni:</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Pertama niat karena Allah swt.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">Mulailah dengan menyebut <em>asma Allah, basmallah, </em><span>lantas akhiri dengan </span><em>hamdallah. </em><span>Rehat dan tidur karena Allah, itulah tidur yang ibadah. Andai cukup lima atau enam jam, mengapa harus tidur 10 jam. Jika tak lapar, mengapa harus makan. Jika cukup satu piring, mengapa harus cicipi semua makanan. Awalnya ajaran ini lebih berbau etika. Tapi akhirnya itulah kehidupan yang sehat. Tanpa agama, otak manusia hanya dipenuhi nafsu. Akal jadi lemah dikendalikan nafsu. Sedang otak selalu cari jalan untuk penuhi nafsu. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Kedua yang dikerjakan musti memperhatikan WHSMM.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">Apa itu WHSMM? Itulah Wajib, Haram, Sunah, Makruh dan Mubah. Akal harus mengetahui betul mana perkara wajib yang harus dijalankan dan yang ditinggalkan. Riba jelas haram. Bila setetes atau segelas <em>khamer </em><span>tetap dilarang, maka bunga 1% atau lebih pun tetap haram. Mengingat jalankan yang sunah tak cukup waktu, maka pandai-pandailah memilihnya. Bila halal saja dihisab, yang paling baik tentu tinggalkan yang makruh. Mubah memang dibolehkan, asal jangan berlebihan. Makan daging baik, tapi berlebihan darah tinggi akibatnya. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Ketiga tidak meninggalkan perkara azas.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">Shalat ternyata olah raga. Shalat di awal waktu, jasmani pun terjaga sehat. Itu rahasianya. Maka jangan karena alasan rapat, shalat pun tertunda. Mengapa pula harus tinggalkan puasa saat Ramadhan? Meski bisa diganti di lain hari, apakah kita paham fadhillahnya bila dikerjakan di Ramadhan. Maka begitu menyesalnya Usman bin Affan saat zakat fitrahnya lewat waktu.</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Keempat kerjakan dengan maruf.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">Bukan hanya tujuan tak tercapai, bila caranya salah, bisa jadi bubrah atau munculkan banyak soal. Andai cukup dengan jala, mengapa harus ledakkan dinamit guna menangkap ikan. Bagi yang masih perkasa, mengapa untuk sesuap nasi harus andalkan hak menerima zakatnya. Jika cari nafkah sama susahnya antara yang haram dan yang halal, mengapa harus menipu dan korupsi. Bila cukup dengan kelembutan dan senyum, mengapa harus memaki dan menghentak saat menegur.</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Hasilnya harus bermanfaat.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">Setelah uang diperoleh berlebih-lebih, apakah makan kita pun bertambah jadi lima kali sehari. Setelah harta melimpah, apakah kita bisa tidur serentak di tiga atau empat rumah yang kita beli. Bukankah kita bisa beli rumah, tapi tak bisa beli kenyamanan. Kita bisa perkuat penjagaan dengan satpam dan alarm, tapi tak bisa jamin keamanan. Kita bisa beli tempat tidur yang mewah, tapi tak bisa beli nyenyaknya tidur. Kita bisa beli makanan mahal, tapi rasanya tetap sampai di ujung lidah saja.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Dari profit ke benefit, itu makna <em>giving </em><span>sesungguhnya</span><em>. </em><span>Begitu kita berbagi, pasti manfaatnya kembali juga kepada kita. Nafsu memang ingin selalu nikmati sendirian. Tapi akal berbisik, raga ini tak mampu tampung lebih dari 10 piring nasi per hari. Nafsu ingin pujian karena kaya, terhormat, punya kedudukan tinggi dan berwibawa. Namun akal ingatkan, sedekah punya rahasia. Di tiap sedekah, itulah terletak ‘benteng sosial’ sesungguhnya. Saat orang penuhi hasrat </span><em>time is money, </em><span>akal ingatkan ‘tiap detik menuju kematian’. </span></p>
<p class="MsoNormal">Maka sekali lagi ‘bila halal pun dihisab’, mengapa hidup ini tak kita jadikan ibadah saja. Bukankah ini janji yang kita ucapkan setiap hari 5 kali: <em>sholatku ibadahku hidupku dan matiku hanya untuk Allah </em><span>semata.</span></p>
<p>(Dimuat di Republika, Jumat 8 Januari 2010).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/benarkah-ibadah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Ke Surga</title>
		<link>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/jalan-ke-surga/</link>
		<comments>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/jalan-ke-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 00:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eriesudewo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eriesudewo.niriah.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[
 Suatu hari di 2008, saat antar si bungsu, Alifah Zahiah, sekolah di MTs Al Azhar As Syarif, saya mampir ke kedai sederhana Pecel Madiun di jalan Kahfi, Srengseng Jagakarsa Jakarta Selatan. Di salah satu sudut ruang, terpajang kata-kata mutiara yang tampaknya dibuat oleh serdadu yang ditujukan untuk saudara-saudaranya yang para serdadu pula.

 Saya baca dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"> Suatu hari di 2008, saat antar si bungsu, Alifah Zahiah, sekolah di MTs Al Azhar As Syarif, saya mampir ke kedai sederhana Pecel Madiun di jalan Kahfi, Srengseng Jagakarsa Jakarta Selatan. Di salah satu sudut ruang, terpajang kata-kata mutiara yang tampaknya dibuat oleh serdadu yang ditujukan untuk saudara-saudaranya yang para serdadu pula.</p>
<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Saya baca dan subhanallah. Saya terhenyak. Selama ini yang kita dengar tentang dunia militer, ya keras, disiplin, instruktif, tegas dan tak kompromi. Ternyata hari ini saya surprise. Kata-kata berhikmah ini, mereka para serdadu buktikan, bahwa mereka juga punya hati, punya nurani. Yang bicara mulia tidaknya tergantung yang memiliki hati. Dimanapun kapanpun dan dalam posisi apapun.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Segera saya ambil pena. Saya tulis di amplop bekas, dan kini saya share untuk anda yang kebetulan tersesat di blog saya.</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>JALAN KE SURGA</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Wahai Tuhanku </strong></p>
<p class="MsoNormal">Aku yakin Engkau tetapkan rizkiku</p>
<p class="MsoNormal">Dan Engkau tak pernah keliru</p>
<p class="MsoNormal">Maka tenangkanlah jiwaku</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Wahai Tuhan</strong></p>
<p class="MsoNormal">Aku yakin amalku bukan untuk-Mu</p>
<p class="MsoNormal">Dan semua itu kembali kepadaku</p>
<p class="MsoNormal">Maka aku bersyukur kepada-Mu</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Wahai Tuhan</strong></p>
<p class="MsoNormal">Aku yakin betapa banyak dosa-dosaku</p>
<p class="MsoNormal">Dan ampunan-Mu melebihi samudera biru</p>
<p class="MsoNormal">Maka kumohon ampunan-Mu</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Wahai Tuhan</strong></p>
<p class="MsoNormal">Aku yakin Engkau melihatku</p>
<p class="MsoNormal">Dan akupun malu kepada-Mu</p>
<p class="MsoNormal">Maka jauhkan kema’siatan dariku</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Wahai Tuhan</strong></p>
<p class="MsoNormal">Aku yakin kematian pasti menjemputku</p>
<p class="MsoNormal">Dan aku menyiapkan bekalku</p>
<p class="MsoNormal">Maka aku siap berjumpa dengan-Mu</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" align="right"><strong>Disbintalad</strong></p>
<p><!--EndFragment--> <!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eriesudewo.niriah.com/2010/01/jalan-ke-surga/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
