“Tak Yakin” Social Entrepreneur of the Year 2009: Ernst & Young (Bagian 1)

Tawaran di 2008

TERKEJUT. Sms mas Sigit dari Bina Swadaya Masyarakat (Bina) masuk. Isinya,  Bambang Ismawan, tokoh Bina, nominasikan nama saya dalam lomba Social Entrepreneur yang digelar Ernst & Young (E & Y). Saya tersenyum. Bambang Ismawan punya sisi moral yang baik, ingat pada rekan-rekan lain yang bergerak di grassroot.

Pikiran saya menerawang. Apa bisa saya tembus seleksi? Jelas ada beberapa pertimbangan mengapa saya bertanya demikian.

·      Pertama E & Y adalah lembaga besar. Pergelaran Entreprenur of the Year pertama kali mereka mulai di Inggirs tahun 1986. Yang di Indonesia mulai tahun 2001. Penyabet business entrepreneur, di antaranya Dahlan Iskan di 2001 (pendiri Jawa Pos Group), Sudhamek AWS  2004 (Garuda Food), dan Ciputra 2007. Pemenang-pemenang inilah yang wakili Indonesia untuk dipertandingkan lagi di tingkat dunia di Monte Carlo.

Untuk social entrepreneur tahun 2007 jatuh pada Bambang Ismawan pendiri Bina Swadaya Masyarakat. Bina lembaga yang luar biasa. Berdiri tahun 50-an, tetap komit dan konsisten hingga kini. Wajar bila Bina jadi NGO local yang mendapat kepercayaan penuh dari  berbagai lembaga donor dunia. Yang setahu saya pula, di Bina ada hampir 1.000 pekerja. Terdiri 600-an di bisnis, selebihnya mengurusi nirlaba.

·      Karena itu yang kedua berbeda dengan yang saya jalani. Saya usung Dompet Dhuafa Republika (DD) tanpa bekal sama sekali. Tak pernah belajar manajemen apalagi dunia pemberdayaan. Istilah learning by doing dan life is university itu jadi teman pemacu semangat. Karena tak punya skill apa-apa, hanya tinggal dua kunci untuk bisa mengembangkan lembaga. Yakni dua kesungguhan, sungguh-sungguh bekerja dan sungguh-sungguh mau berbenah. 

·      Ketiga saya sungguh-sungguh bergerak di grassroot. Menjumpai para pemetik manfaat sebelum shubuh hal biasa. Melongoki mereka di tempat nun jauh terpencil musti dilakoni meski berjalan kaki sekalipun. Sudah jauh-jauh datang, yang dijumpai juga cuma satu orang atau mereka yang tak lebih dari lima orang. Bagi kebanyakan orang, ini mubazir luar biasa. Tetapi ranah pemberdayaan memang punya ‘logika grassroot’ tersendiri.

Lantas bekerja di rakyat di strata terbawah bukan lagi ibarat, melainkan memang benar-benar bergumul dalam sepi. Tak ada tepuk tangan serta tak ada pula liputan media. Maka seperti para guru, meski tak pernah diharapkan memang tak pernah terpikir bakal mendapat tanda jasa. Sama sekali tak ada pikiran seperti itu. Terkadang muncul rasa frustasi. Bukan karena tak ada tanda jasa, melainkan dukungan untuk mengatasi problem strata terbawah nyaris tak pernah diperoleh. Mau tanya benar atau salah, kebanyakan yang ditanya selalu mengiyakan. Artinya jalan terus tak usah mundur. Karena sudah terlanjur, ya lakoni saja iramanya.  

Nah bila diusulkan untuk ikut seleksi di E & Y, bukankah mimpinya berlebih-lebihan. Kendati banyak orang bilang mimpi boleh setinggi langit, tapi saya tekankan pada diri sendiri, jangan berlebihan meski cuma mimpi. Artinya jangan panjang angan-anganlah. 

·      Lantas keempat, ini pertimbangan utama mengapa saya tak berpanjang angan-angan: DD membasiskan pemberdayaan pada ZISWAF. Ini pendekatan sangat agamis, yang belum populer di kalangan NGO lokal. Seolah-olah untuk buat kegiatan sosial saja minta bantuan agama. Saya pun sempat terkejut pada suatu saat diminta bicara di depan ratusan pegiat social yang digelar Yappika di Hotel Indonesia. Pembicara lain menyindir, sepertinya saya tak bicara pemberdayaan tetapi sok suci dengan nasihat dan anjuran.

Belakangan isu tentang muslim pun tengah banyak disorot negatif. Yang saya paham E & Y dari luar. Sedikit banyak, pasti lah hal-hal seperti itu jadi bagian dari penilaian. Lihat saja negara-negara yang sebagian masyarakatnya Islam, kini tengah dilanda kekisruhan. Afghanistan, Pakistan, Palestina dan Irak sebagai contoh. Indonesia sendiri juga tengah berburu teroris, yang entah teroris itu memang ada atau ‘diadakan’.


Maka apa yang saya bayangkan seolah diaminkan situasi. Undangan E & Y untuk seleksi tahun 2008 itu sampai seminggu sebelum batas akhir. Bagi saya mustahil untuk bisa lengkapi persyaratan serta jadwal wawancara yang memang sudah berlalu. Meski saya simpan file-filenya, tawaran E & Y saya lupakan. Bergerak di strata terbawah koq minta macam-macam, award lagi. Maka harapan-harapan yang memang telah lama ditikam, secepat itu pula lenyapnya.

Saya kembali tenggelam di grassroot. Berjumpa dengan banyak lapisan terbawah, yang jumlahnya paling banyak cuma 20-an orang. Sudah sedikit, kualitas SDM pun amat lemah. Jika tak ditanya, jangan harap mereka mau bicara. Jangan pula berharap mereka punya gagasan. Diajak bicara, mata yang ada pun tampak kosong. Atau hanya terkagum-kagum pada orang kota. Maka bagaimana caranya membakar mereka agar mau membangun ‘Lumbung Padi’ kembali, misalnya. Atau mengembalikan beragam ‘modal sosial’ yang sudah luruh di ‘zamrud khatulistiwa’ ini.

Post DIPOSTING OLEH eriesudewo PADA 24 November 2009

Leave a Reply