Buku
Blog Network Niriah
Seorang rekan bertanya tentang ACT (Aksi Cepat Tanggap) yang banyak bergelut ke daerah bencana. “Untuk sosial apa harus kerja sekeras itu? Lantas anda dikatakan social entrepreneur. kira-kira apa relevansinya dengan ACT?”
Ada dua hal terkandung di balik pertanyaan ini. Pertama tentang kegiatan sosial. Kedua perbedaan antara social worker (SW) dengan social entrepreneur (SE). [...]
Suatu pagi di Hotel Ibis Malioboro Jogjakarta. Jarum jam baru saja bergerak melewati angka 6 ketika saya sudah duduk di restonya. Di pagi yang cerah ini, tentu saja cuma satu keinginan: Sarapan. Hangat menyergap begitu kopi yang masih mengepulkan asap terseruput. Di meja hidang, beberapa makanan tersaji mengundang selera. Ada nasi goreng, nasi uduk, mie [...]
CONGRATULATIONS. Itulah kata pertama undangan E&Y yang saya terima. Isinya saya dinyatakan lulus sebagai finalis social entrepreneur. Maka diharap hadir pada dua pertemuan: Rabu 11 Nov’09 meeting dengan para juri di Financial Club, serta Rabu 18 Nov’09 di Grand Ballroom Shangri-La Jakarta dalam malam penganugerahan pemenang.
Pertemuan dengan para juri di Financial Club lancar. [...]
Tawaran di 2009
TERKEJUT lagi meski tak sekejut pertama. Sms mas Sigit yang isinya sama masuk lagi sekitar Agustus 2009. Kalau begini naga-naganya serius nih. Keraguan dengan berbagai pertimbangan di atas sontak raib. Begitu surat tawaran dari E & Y datang, file pun segera diisi. Jadwal wawancara dengan tim juri disepakati, termasuk jadwal pengambilan gambar dari [...]
Tawaran di 2008
TERKEJUT. Sms mas Sigit dari Bina Swadaya Masyarakat (Bina) masuk. Isinya, Bambang Ismawan, tokoh Bina, nominasikan nama saya dalam lomba Social Entrepreneur yang digelar Ernst & Young (E & Y). Saya tersenyum. Bambang Ismawan punya sisi moral yang baik, ingat pada rekan-rekan lain yang bergerak di grassroot.
Pikiran saya menerawang. Apa bisa saya tembus [...]
Jarum jam belum tepat di angka 06.00 pagi di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Sepagi itu hati ini sudah terkaget-kaget. Seseorang perlente datang dengan menggendong, maaf orang tanpa kaki. Setelah diletakkan di tepi jalan, disekanya wajah yang cacat itu. Sebelum ditinggalkan, dipandanginya sejenak. Lantas dia menyelinap ke belakang. Tak sampai 10 detik, yang cacat mulai [...]
Di depan pintu masuk Cijantung I, Kramat Jati Jakarta Timur, ada prasasti besar bertuliskan: Lebih Baik Gugur Di Medan Perang Daripada Gagal Tugas. Kata-kata ini memang ditujukan untuk para prajurit Koppasus. Sekaligus sebagai pemberi tahu kepada para tamu, pada orang tua, keluarga dan sanak saudara atau juga kepada orang yang kebetulan liwat, bahwa itulah moto [...]
Kikuk. Begitu saat mundur dari sesuatu yang digeluti. Dalam menulis misalnya, biasanya diembeli nama lembaga. Pindah ke tempat baru, lembaga baru jadi padanan. Namun mundur total untuk berkiprah sendiri, itulah yang saya alami di pertengahan 2003.
Setelah sendiri, kini identitas apa yang kiranya pas disemat. Kiprah di kegiatan kemasyarakatan masih dipandang sebelah mata. Sebagian yakin itu [...]